Kamis, 10 Januari 2013

dibangku kuliah tampa biaya orang tua



Di usia ku yang ke-17tahun,
saya anak kedua dari tiga bersaudara dan bisa dibilang saya merupakan anak laki-laki yang paling tua.saat itu Saya masih duduk di SMP tinggal menunggu kelulusan, saya mempunyai seorang kakak perempuan yang masih duduk dibangku SMA, dan adik saya masih duduk dibangku SD. semenjak kepergian bapak saya mulai sadar dan memahami apa yang harus saya lakukan,
begitu lulus SMP saya berusaha mencari pekerjaan yang halal tuk jadi tulang punggung keluarga,"Bu kakak mau kerja agar ayuk dan adek lanjut sekolah ketingkat yang lebih tinggi" mohon izinnya Bu",
"IBu, gak bisa jawab nak", "gak apa-apa bu". saya pun kerja di tambang timah.

Bapak adalah seorang yang sangat jujur, arif, lugu dan sabar. bapak berkerja di mall bagian keamanan(SATPAM),2 tahun bapak kerja karna kejujurannya bapak menjabat jadi kepala regu, saya masih ingat ketika salah seorang kerabatnya yang lama tidak pernah berkunjung ke rumah, tiba-tiba datang dan meminjam sepeda motor yang baru dibeli oleh Bapak dari hasil selama bapak kerja, Dan betapa marah bapak, karena ternyata orang itu membawa pergi sepeda motor itu dan tidak mengembalikannya. Di tengah amarah bapak dan Ibu yang tampak sedih, Bapak justru berkata, "Sabar bu, ini jalan Allah... mau bagaimana lagi, ibu mesti sabar dan tabah menjalaninya".Sambil menahan tangis bapak mengatakan kepada ibu.


"InsyaAllah, Bu, aku juga akan berusaha dengan sebaik mungkin untuk berprestasi. Dan untuk uang ini ibu ambil setengahnya saja, Bu.insyaAllah sudah ada uang untuk menutupi kekurangan biaya semester ini."  membuka amplop putih itu, diambinya uang dua juta lalu ia serahkan kepada Ibunya kembali.
 "Ibu tenang saja, Hakim akan mencoba mencari tambahan untuk uang kuliah dengan mengajar, atau pun mencoba mencari pekerjaan yang kiranya dapat meringankan Ibu dan Bapak."

"Syukurlah kalau begitu, tapi tetap kamu harus mengutamakan kuliahmu," kata Ibunya dengan wajah sedikit berseri-seri. Mendung sedih yang dari tadi hinggap di wajah Ibu Maisarah dan Pak Narto itu, sedikit hilang mendengar penjelasan anaknya.
Bukan keinginannya jika dia harus melakukan perbuatan yang tidak terpuji itu. Tapi keadaanlah yang membuatnya melakukan ini semua. Seminggu lalu ketika dirinya pulang ke desa karena libur kuliah, hatinya benar-benar menjerit melihat keadaan kedua orang tuanya. Betapa selama ini ketika dia asyik dengan dunianya sendiri, ia lupa pada orang yang tiada henti mendoa dan berharap kepadanya. Ketika siang hari, Bapak harus bergelut dengan lumpur sawah berteman sengatan matahari. Punggungnya berkilau karena terlalu sering berjemur di bawah terik mentari. Sementara Ibu pun tak kalah hebat dibanding Bapaknya, setelah pekerjaan dapur selesai, jika tidak membantu sang suami, Ibunya harus mencarikan rumput untuk ternaknya. Terkadang juga pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar.
Air mata yang jarang keluar dari kelopak matanya, hari itu mengalir deras tiada kuasa dia bendung. Kata-kata Ibunya meruntuhkan sekat yang menghalanginya untuk menangis.,
Saat ini saya berstatus mahasiswa di salah satu universitas swasta yang lumayan punya nama di daerah kami.

Ketika saya masuk kuliah, kakak saya mendapatkan tempat kerja di PT, sehingga ayah saya pun meneteskan airmata ketika pengumuman masuk di perusahaan tersebut, bahkan ibu saya terlihat sangat gembira sekali. Dan baru kali itu saya melihat ibu saya memancarkan wajah kebahagiaan yang sangat luar biasa. Namun apa daya, ternyata anak keduanya ini hanyalah seorang yang bisa bermimpi. Walaupun sudah berusaha sekuat tenaga akhirnya Universitas Negeri pun melayang jauh, dan itu sempat membuat saya drop. Hingga pada suatu ketika saya sempat terpikir untuk mengakhiri hidup ini daripada harus menanggung malu
Saya hanya ingin melihat wajah ibu yang begitu gembiranya seperti saat itu.
Saya hanya ingin melihat ayah saya menangis bahagia seperti saat itu..

tapi apa yang terjadi selalu sebaliknya, saya malah selalu membuat ibu saya menangis..

dan ketika beliau menangis, maka hancurlah dunia yang saya miliki..

karena saya tak pernah tau, bagaimana agar membuatnya selalu tersenyum..
saya selalu merasa tak bisa membuatnya bangga, selalu menjadi anak yang tak bisa berbakti.
bahkan impian semasa kecil untuk membiayai ayah dan ibu saya naik haji saja serasa sirna.
walaupun saya tidak akan pernah berhenti berusaha.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar